BAB 1
ada hal yang tidak ku mengerti hingga sekarang. banyak pertanyaan dalam hatiku, ketika aku mulai goyah dengan prinsipku. aku gelisah, setiap kali aku tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. sesuatu yang tak dapat diungkap dengan kata, sangat sulit untuk dicurahkan.
terkadang aku marah dengan diriku. begitu mudahnya aku menerima dan memberi. hingga akhirnya begitu mudah juga aku dipermainkan oleh permainan yang kumulai sendiri.
kau datang disaat aku tidak menginginkanmu, kau hadir saat aku mulai melupakanmu, dan kau, kau begitu mudahnya masuk kembali ke dalam hatiku saat aku bersusah payah berkata cukup dengan semua keadaan ini.
saat seseorang datang, aku bingung aku harus apa. aku tidak tau apakah aku menginginkannya atau tidak, aku hanya berpikir, sesuatu itu mungkin akan tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
tapi ternyata aku salah. sesuatu itu tidak muncul, yang ada hanya situasi yang kacau dan aku kehilangan siapa diriku sebenarnya. aku terpenjara dalam situasi ini begitu lama, sulit sekali agar aku dapat terbebas. hingga Tuhan membantuku, aku sanggup keluar dan membebaskan diriku sendiri.
butuh waktu yang lama bagiku tuk pulihkan hati ini. rasa penyesalan terus menerus menghantuiku. sudah seharusnya aku tak menerimanya sejak awal. tapi inilah hidup, penyeselan selalu datang di akhir.
aku berhasil kumpulkan kembali keceriaanku. aku sudah bisa menerima, melupakan, dan mengambil pelajaran dari apa yang telah ku alami. sampai pada suatu waktu, aku mulai tau bahwa inilah orang yang kuinginkan.
bagiku, dia orang yang sempurna. dia baik, rajin beribadah, sayang dengan keluarganya dan juga penuh tanggungjawab. aku dan dia cukup berteman baik, hingga kami benar-benar dekat. aku merasa aku menginginkannya, begitu juga dengan dirinya. setiap sorot matanya berkata kita akan lebih baik jika kita bersama. setiap tutur katanya seolah membimbingku untuk menjadi yang terbaik baginya. ini adalah sesuatu yang sangat indah. aku merasa bagai sebuah kebun yang sedang ditumbuhi bunga-bunga yang mekar.
namun, itu semua tidak berlangsung lama. kebun yang penuh bunga itu hancur. bunga-bunga itu dicabut dengan kasar, dibakar hingga tak ada sisanya. dia pergi begitu saja, aku tidak mengerti kenapa dia seperti itu. jujur, aku sangat terpukul. tetapi tak lama setelah itu, dia datang, menyiram kembali kebun itu dan meminta maaf atas segalanya. dengan senang hati akupun menerimanya.
entah aku yang terlalu lugu atau bodoh, kejadian buruk itu terjadi lagi. dia kembali menghancurkannya setelah bersusah payah ia menanaminya. aku berpikir mungkin ia hanya belum siap. tetapi kejadian ini terus berulang. aku tak sanggup berada terus menerus dalam situasi ini. aku putuskan untuk mundur, sudah cukup aku terluka, sudah cukup aku terlalu membuka, sudah saatnya aku menutup hati ini
lama aku harus kembalu berbenah. lama untuk bisa mengumpulkan kembali kepercayaanku pada cinta. semua orang berkata cinta itu indah, tapi jujur, aku belum merasakan bagaimana indahnya.
aku bertemu dengan seseorang yang sama sepertiku. dia pernah jatuh cinta tapi merasa bahwa cinta itu indah. bahkan yang dirasakan, cinta itu hanyalah omong kosong, penuh ketidak jujuran.
aku dengannya berteman, hanya teman biasa. aku tidak pernah melihatnya lebih.
saat dia tak ada aku hanya merasa sepi, tapi aku tak begitu menyadarinya. saat dia pergi seperti ada yang hilang. aku juga tidak terlalu memikirkannya. hingga suatu hari, aku melakukan sesuatu yang entah mengapa aku mau melakukannya. sampai temanku bertanya, "apakah kau mencintainya sampai kau bela-belain mempersiapkan ini semua?"
jujur aku terkejut dengan pertanyaan temanku itu. aku pikir, ini hanyalah biasa seperti seorang terhadap temannya.
aku mulai mencari dan bertanya-tanya. bersusah payah aku masuk kembali ke dalam hatiku. apa yang sebenarnya sedang kurasakan. aku hanya memohon, tolong, jangan kau buat aku jatuh cinta lagi. aku sudah cukup lelah dengan semua ini.
dia tau aku kalau aku tidak ingin untuk jatuh cinta lagi, begitu juga aku yang tau kalau dia tidak percaya lagi dengan cinta semenjak ia ditinggalkan. aku tau pada akhirnya kami akan saling menolak, tapi kenapa aku harus merasakannya lagi? kenapa cinta itu datang lagi?
Tuhan, salahkah jika aku jatuh cinta? kenapa engkau biarkan aku mencintai orang yang akan menolakku? kenapa kau buat semua ini menjadi menyakitkan? aku tidak mengerti, aku tidak tau aku harus apa. aku tak sanggup untuk menyimpannya dan aku juga tak punya cukup kekuatan dan keberanian untuk menolaknya.
Tuhan, jika memang engkau menginginkannya untuk bersama diriku, akhirilah semua ini dengan indah. namun jika engkau berkehendak lain, ku mohon, jangan buat hati ini merasakan sakit.
~ BERSAMBUNG~